IF YOU DO THE SAME, THEN THE RESULT IS THE SAME. CHANGE WILL NOT HAPPEN UNTIL YOU CHANGE THE CAUSE

Jumat, 08 Oktober 2010

Beras & Nasi


Beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam (Jawa merang) secara anatomi disebut 'palea' (bagian yang ditutupi) dan 'lemma' (bagian yang menutupi). Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras.
Nasi sebuah makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, khususnya Indonesia bagian barat. Nasi dijadikan makanan poko di karenakan mengandung karbohidrat yang tinggi. Akan tetapi di Indonesia sendiri, nasi dapat di ganti dengan singkong atau tanaman unbi-umbian lainnya di karenakan memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, ataupun sagu (sagu sendiri kebanyakan di konsumsi di wilayah Indonesia bagian timur). Tapi dari manakah nasi itu berasal? Dan bagaimana cara mengolahnya hingga menjadi sedemikian rupa?
Ketika duduk di bangku sekolah dasar, Bapak atau Ibu guru selalu menjelaskan bahwa nasi itu berasal dari beras dan beras itu asalnya dari padi. Jawaban seperti itu tidaklah salah karena memang pada intinya nasi itu terbuat dari beras, tapi jawaban itu kurang tepat. Karena ada proses-proses yang harus dilalui terlebih dahulu.
Pada mulanya seorang petani harus menggarap sawahnya hingga tanahnya gembur dan terisi dengan air, kemudian petani tersebut menanan benih-benih padi. Petani harus setia merawat padi dengan baik, karena itu juga dapat mempengaruhi kualitas padi itu sendiri dan menjaga padi-padi dari serangan hama, menjaga saluran irigasi agar air tetap mengalir ke sawahnya dengan baik. Dan dalam waktu penantian yang cukup lama padi pun menguning dan siap untuk di panen.
Jika telah tiba saatnya panen, padi dapat dipanen dengan dua cara yaitu cara tradisional dan cara modern, cara tradisional yaitu dengan cara Padi di potong dan di pukul-pukul pada alat pemisah padi, hingga biji beras yang ada di dalam padi keluar dari kulit beras biasanya cara ini di lakukan beramai-ramai. Sedangkan cara modern yaitu dengan cara tumpukan padi yang sudah di panen di bawa ke suatu pakbrik untuk di tumbuk untuk memisahkan biji beras dengan dengan kulitnya, yang biasa disebut ‘gabah’ setelah itu di masukan ke dalam karung dan siap siap untuk di jual. Di akhir-akhir ini mungkin kita tidak akan melihat panen padi lagi di kota-kota besar karena mungkin sawah untuk menanam padi sudah jarang jarang di temukan lagi yang telah di sulap oleh para pengusaha menjadi gedung-gedung pencakar langit.
Warna beras yang berbeda-beda diatur secara genetik, akibat perbedaan gen yang mengatur warna aleuron, warna endospermia, dan komposisi pati pada endospermia.
Beras "biasa", yang berwarna putih agak transparan karena hanya memiliki sedikit aleuron, dan kandungan amilosa umumnya sekitar 20%. Beras ini mendominasi pasar beras.
Beras merah, akibat aleuronnya mengandung gen yang memproduksi antosianin yang merupakan sumber warna merah atau ungu.
Beras hitam, sangat langka, disebabkan aleuron dan endospermia memproduksi antosianin dengan intensitas tinggi sehingga berwarna ungu pekat mendekati hitam.
Ketan (atau beras ketan), berwarna putih, tidak transparan, seluruh atau hampir seluruh patinya merupakan amilopektin.
Ketan hitam, merupakan versi ketan dari beras hitam.
Setelah sampai di konsumen, konsumen tidak serta merta bias mengkonsumsinya. Konsumen harus membersihkan beras tersebut dimulai dari memisahkan antara beras dengan kotoran (gabah atau batu) yang berada di antara tumpukan beras dan kemudian mencucinya dengan air hingga bersih. Lalu beras dimasak dengan menggunakan air secukupnya pada rice cooker langsung atau alat apapun yang dapat di pergunakan untuk memasak nasi. Setelah matang, barulah nasi siap untuk di konsumsi.
Namun untuk mendapatkan nasi yang berkualitas baik, di butuhkan juga beras padi serta segala sesuatu yang ada dalam proses pembuatan nasi yang berkualitas baik. Jadi bisa saja jika salah satu unsur dalam pembuatan nasi berkualitas buruk atau kurang baik maka akan menghasilkan nasi dengan kualitas kurang baik juga.
Dalam mengkonsumsi nasipun, kita tidak akan merasa puas atau merasa tercukupi apabila kita hanya mengkonsumsi hanya sebutir nasi, tapi untuk memenuhinya kita butuh minimal satu piring nasi atau lebih. Bahkan kita juga butuh menambahkan lauk pauk dan sayur mayur untuk kesehatan. Atau jika ingin lebih sehat, bisa ditambahkan dengan mengkonkumsi susu.
Sekarang, jenis makanan berbahan dasar nasi sudah beragam, misalnya nasi putih, nasi kuning (jika dilihat dari warna), nasi goreng, ataupun onigiri (bola nasi khas jepang), dan masih banyak lagi.
Sudah jelas, bila dewasa ini kita masih berpikir bahwa “nasi itu dibuat dari beras”, maka cara berpikir kita sama dengan anak berpendidikan tingkat sekolah dasar. Tapi sudah seharusnya kita berpikir bahwa membuat nasi itu tidak hanya membutuhkan beras, tapi juga dengan bahan lain dan membutuhkan proses.
Terlihat jelas, bahwa menjadikan tanaman padi menjadi nasi itu membutuhkan proses yang cukup panjang dan rumit. Begitu juga dengan hal-hal lain dalam kehidupan ini, bahwasannya untuk mencapai sesuatu yang biasa disebut dengan “cita-cita” itu membutuhkan kerja keras dengan proses yang sangat panjang. Dan juga jangan lupakan do’a atau ibadah, dimana kita hanyalah sebagai manusia yang hanya bisa merencanakan, tapi Allah S.W.T -lah yang menentukan. Misalkan saja dalam menjadikan tanaman padi menjadi beras, kita hanya bisa berusaha sebaik mungkin dengan menggarap sawah, menanami lahan tersebut dengan benih padi, mengatur saluran irigasi, dan menjaga tanaman dari gangguan hama. Tapi tetap saja, kedepannya kita tak tahu apa yang terjadi, belum tentu padi kita panen dengan sempurna atau bahkan gagal panen, mungkin karena faktor alam, dan lain-lain. Maka dari itulah posisi do’a atau ibadah sangat penting.
Begitu juga dengan bangsa Indonesia tercinta ini. Sudah saatnya untuk mendewasakan diri ditengah masalah-masalah yang ada. Sudah saatnya bangsa ini berintrospeksi dan memperbaiki diri, bukan hanya pemerintah, kaum intelektual, atau hanya aparat saja yang harus berbenah diri. Tapi juga seluruh elemen yang ada di bangsa ini. Karena untuk menghasilkan nasi yang baik, dibutuhkan juga beras yang baik dan bahan-bahan lain yang baik, serta proses yang baik pula, maka untuk menghasilkan bangsa yang baik, maka harus dari pemerintah dan masyarakat yang baik juga, serta hukum-hukum yang baik, jujur, jelas dan tegas. Tapi, pemerintah sebagai pemimpin juga harus banyak berperan dalam mewujudkan ini. Karena posisi pemerintah disini adalah sebagai pengatur sekaligus contoh bagi rakyatnya.
Maka dari itu, pemerintah jangan setengah-setengah dalam mencontohkan hal-hal yang baik pada mesayarakat, misalkan dengan menerapkan hukum yang adil, tegas, jujur dan terbuka kepada semua elemen bangsa, termasuk kepada kalangan elit pemerintahan itu sendiri. Dan jangan mencontohkan hal-hal negatif seperti korupsi, kolusi dan nepotisme.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Bangsa Indonesia juga memiliki cita-cita luhur yang tertuang dalam UUD 1945. Tapi tujuan itu tidak akan terwujud jika bangsa ini hanya mengandalkan peran pemerintah dan kaum intelektual. Seperti saat kita lapar. Karena merasa lapar, maka kita harus makan, dan kita tidak akan merasa puas atau tercukupi apabila kita hanya makan sebutir nasi. Tapi kita akan merasa puas atau tercukupi apabila kita makan nasi sepiring atau bahkan lebih dengan tambahan sayur mayur, lauk pauk dan susu.
Berarti, agar tujuan luhur bangsa Indonesia tercapai, diperlukan sebuah kerjasama yang solid dalam segala bidang dari seluruh masyarakat Indonesia di semua aspek yang ada, baik di dalam agama, politik, dan lain-lain. Dan juga dengan memperhatikan pengaruh dari globalisasi. Dimana dengan globalisasi, pengaruh-pengaruh dari luar dapat masuk kedalam bangsa ini. Jika pengaruh positif, maka harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, tapi jika pengaruh yang negatif, itu harus di minimalisir dan diusahakan agar tidak bisa masuk kedalam bangsa ini. Untuk itu harus ada proteksi sejak dini yang mumpuni yang didasari dengan iman dan ketaqwaan terhadap Allah S.W.T.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya, baik kekayaan alam maupun budayanya. Namun sayang, walaupun jumlah penduduknya mencapai 200 juta lebih, namun dalam pembinaannya masih banyak kekurangan, sehingga menyebabkan rendahnya kualitas masyarakat Indonesia. Jumlah penduduknya yang banyak menyebabkan bangsa Indonesia tidak mudah dikalahkan dengan kekuatan fisik, seperti perang. Namun kualitas manusia yang rendah dan banyaknya perbedaan yang ada, baik agama, ras, suku, dan lain-lain, menyebabkan bangsa Indonesia mudah dikalahkan dan dicerai beraikan dari dalam.
Maka dari itu, kata-kata “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” janganlah hanya dijadikan slogan saja, tapi sudah saatnya di aplikasikan. Perhatikan persamaan-persamaan yang ada dan jadikan itu sebagai pemersatu bangsa, yang bisa menutupi perbedaan-perbedaan yang ada, supaya tidak menjadi titik lemah, dan bisa dimanfaatkan bangsa asing untuk memecah belah bangsa Indonesia tercinta ini. Janganlah perbedaan-perbedaan yang ada dijadikan sebagai sumber pertikaian, tapi jadikanlah perbedaan-perbedaan yang ada sebagai kekayaan bangsa, yang harus dijaga, dilestarikan dan dikembangkan. Tingkatkan kebersamaan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Karena dengan kebersamaan kita dapat menyatukan segala perbedaan menjadi sebuah kekuatan.
MERDEKA !!
JAYA TERUS INDONESIA !!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar